Hari Kesehatan Mental Dunia : Strategi Menjaga Kesehatan Mental Anak di Masa Pandemi

Pria Berlari Di Sisi Jalan

Oleh Sovia Eprinita, M. Psi., Psikolog

Tanggal 10 Oktober kita memperingati Hari Kesehatan Mental Dunia atau World Mental Health Day. Peringatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan menyebarkan edukasi tentang kesehatan mental di seluruh dunia. Di masa pandemi yang terjadi saat ini telah banyak mempengaruhi kesehatan mental pada banyak orang dengan berbagai macam latar belakang, tidak terkecuali pada anak-anak. Keterbatasan dalam beraktivitas, pembelajaran secara online, minimnya interaksi dengan teman sebaya, serta kondisi orang tua merupakan sebagian hal yang dirasakan oleh anak di masa pandemi. Data yang di lansir dari hasil penelitian Shah et al (2020) juga mengungkap hasil temuan dalam penelitiannya bahwa rutinitas anak yang berubah berkontribusi menambahkan stresor dan membuat anak mengalami kesulitan tidur. Aspek lain yang terdampak adalah proses pembelajaran anak serta kesehatan mental sehingga anak rentan mengalami stres, takut, maupun cemas.

Selain itu,Yeasmin et al (2020) menunjukan hasil bahwa dampak psikologis yang dirasakan oleh anak adalah rasa bosan, kurangnya personal space di rumah, merasa kangen dengan sekolah serta munculnya perasaan kesepiaan. Selain itu, kondisi orang tua yang kehilangan pekerjaan juga merupakan dampak psikologis lain yang dirasakan oleh anak. Oleh karena itu, well being dari orang tua selaku figur signifikan di dalam kehidupan anak memberikan dampak langsung pada kesehatan mental anak (Shah et al, 2020). Hal ini karena anak mengamati sikap dari orang tua dan merasakan perubahan mood yang dialami oleh orang tua. Misalnya jika anak melihat orang tua marah maka mereka cenderung akan memberikan respon dengan perilaku yang sama (Taylor, 2019). Sebelum menjaga kesehatan mental anak, maka penting bagi orang tua untuk menjaga kesehatan mental dirinya sendiri yaitu dengan melakukan beberapa langkah diantaranya adalah membatasi informasi negatif yang masuk, rutin melakukan olah raga, melakukan yoga atau meditasi, mengkonsumsi makanan sehat, tidur yang cukup, serta menghindari konsumsi alkohol maupun obat-obatan terlarang (Shah et al, 2020).

Adapun strategi yang bisa dilakukan orang tua selaku figur signifikan untuk menjaga kesehatan mental adalah sebagai berikut:

  1. Mengembangkan kemampuan mendengarkan aktif dan memahami sikap anak

Mendengarkan aktif adalah sikap yang ditunjukan dengan cara mendengarkan secara terfokus apa yang disampaikan oleh anak sehingga saat proses tersebut kita selaku orang tua menghadirkan diri secara utuh tanpa sedang melakukan berbagai kegiatan yang sekiranya akan mengalihkan fokus kita ketika mendengarkan cerita anak. Adapun memahami sikap anak adalah dengan mencoba untuk melihat dari sudut pandang anak yaitu kita menerima setiap cerita yang anak sampaikan tanpa memberikan penilaian pada hal tersebut.

  • Membantu anak untuk mengekspresikan perasaannya dengan membentuk lingkungan yang suportif dan aman

Penelitian yang dilakukan oleh Ross Thompson et al (2009) menunjukan bahwa anak cenderung akan bersikap terbuka saat beridiskusi mengenai emosi yang sulit ketika ia memiliki kelekatan yang aman dengan sosok ibu serta ketika ibu menerima pendapat dari sudut pandang anak tanpa menghakimi. Pada anak, lingkungan suportif dan aman dapat dibentuk dengan melibatkan berbagai aktivitas kreatif sehingga dapat memfasilitasi anak untuk mengekspresikan perasaannya seperti dengan bermain, menggambar, pretend play, dan lain sebagainya.

  • Buatlah lingkungan yang sensitif dan peduli bagi anak

Pembentukan lingkungan yang sensitif dan peduli bagi anak sangat diperlukan karena di moment seperti ini anak sangat membutuhkan kasih sayang dan perhatian dari orang dewasa disekitarnya.

  • Kelola emosi dan tetap tenang

Penting bagi orang tua untuk dapat mengelola emosi yang dirasakan dan mencoba untuk tetap tenang. Hal ini karena kondisi saat ini menguras energi maupun tenaga dari orang tua, sehingga bila emosi yang dirasakan orang tua sedang naik maka proses pendampingan anak menjadi kurang maksimal. Perlu orang tua pahami bahwa kondisi yang dialami oleh anak-anak saat ini bukanlah hal yang mudah namun mereka memiliki keterbatasan cara untuk mengungkapkan apa yang sedang merasa rasakan dan bagaimana strategi untuk mengelola hal tersebut maka coba dengarkan apa yang mereka sampaikan, bicaralah yang baik yaitu dengan intonasi suara yang datar serta tenang, yakinkan mereka bahwa kita akan menghadapi masa-masa sulit ini secara bersama.

  • Berikan waktu kepada anak untuk bermain dan bersantai

Menghadapi situasi yang bersifat dinamis seperti sekarang sangat mengurang energi anak, maka dengan memberikan waktu kepada anak untuk bermain dan bersantai akan membantu anak untuk lebih rileks dalam menghadapi berbagai situasi yang ada pada saat ini.

  • Hindari memisahkan anak dengan figur signifikan

Dekatkan anak dengan pengasuh utama atau figur signifikan di dalam kehidupannya baik orang tua, paman/bibi, nenek/kakek, maupun pengasuh utama yang lain. Jika kondisi yang ada mengharuskan adanya jarak dengan anak karena satu dan lain hal, misalnya orang tua harus bekerja karena perjalanan dinas, bekerja di fasilititas kesehatan sebagai garda terdepan dan lain sebagainya maka pastikan untuk melakukan komunikasi teratur dengan anak sehingga perasaan bosan maupun kesepiannya berkurang.

  • Jagalah rutinitas harian dan buatlah jadwal kegiatan anak

Pembuatan jadwal kegiatan atau rutinitas harian adalah dengan tujuan agar anak merasa aman. Hal ini karena bila anak tidak memiliki jadwal rutin yang harus ia lakukan setiap harinya maka akan memunculkan perasaan bingung maupun cemas akan apa yang harus ia lakukan. Selain itu, orang tua juga dapat membantu anak untuk mengeksplorasi kegiatan maupun rutinitas baru sehingga anak memiliki pengalaman dan meningkatkan ketertarikan maupun semangatnya.

  • Berikan dukungan kepada anak dan bantu mereka memproses informasi tentang kondisi yang terjadi saat ini

Sampaikan kepada anak kondisi yang terjadi saat ini dengan bahasa yang jelas dan penyampaian sederhana yang disesuaikan dengan usia perkembangan anak. Pada anak di tingkat sekolah dasar ataupun pra remaja orang tua dapat sekaligus melakukan diskusi terbuka untuk mengetahui pemahaman anak mengenai kondisi saat ini.

Jika orang tua masih mengalami kebingungan dengan strategi menjaga kesehatan mental pada anak, orang tua dapat melakukan konsultasi lebih lanjut melalui program Curhat Corona agar dapat berkonsultasi dengan konselor yang ahli dibidangnya.

Daftar Rujukan

Taylor, Steven. 2019. The Psychology of Pandemics – Preparing for the Next Global Outbreak of Infectious Disease. Cambridge Scholars Publishing.

Inter-Agency Standing Committee (IASC). 2020. Briefing note on addressing mental health and psychosocial aspects of COVID-19 Outbreak- Version 1.5.

Yeasmin, Sabina, et al. 2020. Impact of COVID-19 pandemic on the mental health of children in Bangladesh: A cross-sectional study. Children and Youth Services Review 117 (2020) 105277.

Santrock, John W. 2011. Child Development. New York ; Mc. Graw Hill, Inc

 Shah K, Mann S, Singh R, et al. 2020. Impact of COVID-19 on the Mental Health of Children and Adolescents. Cureus 12(8): e10051. doi:10.7759/cureus.10051.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *