Belajar dari Bencana Alam di Palu, Kerusakan Total Hingga Korban Jiwa

Pelajaran dari Bencana Alam di Palu 

Bencana alam di Palu merupakan bencana alam mengundang trauma bagi sebagian korban. Guncangan gempa bumi ini yang dirasakan cukup kuat. Sehingga mengakibatkan orang-orang berlarian meninggalkan gedung dan rumah mereka. Bagi yang sempat lari mungkin selamat tapi bagi yang tertidur? Tidak akan ada yang tahu takdir apa yang akan menimpanya. Gempa tersebut diakibatkan oleh pergerakan sesar paling aktif di Indonesia dan teraktif di Sulawesi. Gempa ini dibangkitkan dengan mekanisme pergerakan dari struktur sesar mendatar.

Bencana alam di Palu tersebut tidak hanya menyebabkan guncangan gempa bumi. Sesaat setelah gempa terjadi gejala likuefaksi (pencairan tanah) yang menelan banyak korban jiwa dan material. Ada dua tempat yang terdampak bencana ini adalah Kelurahan Petobo dan Perumnas Balaroa di Kota Palu. Saat terjadi likuifaksi atau pencairan tanah, terjadi kenaikan dan penurunan muka tanah. Beberapa bagian tanah amblas 5 meter, dan beberapa bagian naik sampai 2 meter. Sementara di Petobo, ratusan rumah tertimbun lumpur hitam menyeret bangunan-bangunan di atasnya. 

Akibat dari  likuefaksi ini, ditemukan banyak korban yang meninggal. Bangunan yang rusak. Akses jalan terhambat. Lahan yang terlihat bergelombang dan perkebunan kampung yang tidak berbentuk lagi. Sebelumnya Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini tsunami untuk wilayah pesisir pantai Kabupaten Donggala, Kota Palu dan sebagian pesisir utara Kabupaten Mamuju.  Bahkan tsunami diprediksi memiliki ketinggian 0,5 – 3 meter akan melanda di Kota Palu. Titik tertinggi maupun titik terendah, tsunami menerjang pantai, menghantam pemukiman, hingga gedung-gedung dan fasilitas umum rusak berat.

Bencana alam di Palu mengakibatkan sejumlah tempat rata dengan tanah. Sepanjang jalan kayu bersepah di mana-mana, puing, dan atap-atap yang terserak. Berdasarkan jumlah foto yang tersebar luas, gempa Palu tergolong dahsyat. Jembatan Kuning yang merupakan ikon kota Palu ikut ambruk. Bagi mereka yang berhasil mencapai bangunan tinggi dan cukup kuat bisa selamat.

Gejala lainnya akibat bencana alam di Palu sulitnya akses listrik atau listrik dalam keadaan terputus karena tiang-tiang listrik rusak akibat guncangan gempa dan likuifaksi. Sehingga masyarakat suka tidak suka harus berada di tengah kegelapan, kelaparan, dan diliputi rasa ketakutan. Siapa yang tenang hatinya saat berada di tengah kepanikan dan kecemasan? Suara isak tangis anak-anak yang kehilangan ayah dan ibunya. Jeritan orang-orang yang melihat harta bendanya hilang dalam sekejap mata. Bagi mereka yang rumahnya rusak karena gempa. Mungkin masih dapat melihat bentuk rumahnya. Namun bagi mereka yang rumahnya tertelan tanah? Mereka hanya bisa menjerit dalam diam. 

Kerusakan total rumah yang hancur akibat bencana alam di Palu setidaknya merusak 66.390 rumah yang rusak total. Gempa susulan yang mengakibatkan jumlah korban berjatuhan. Sekitar 2.045 orang tewas menurut BNPB sedangkan menurut Satgas Gempas Sulawesi Tengah berjumlah 925 orang dan menurut ACT ada sekitar 1.203 orang tewas. Jumlah korban luka-luka sebanyak 632, korban yang hilang 100 lebih dan penduduk yang melakukan pengungsian sebanyak 16.732 penduduk. PMI juga mengirimkan logistik darurat berupa 200 selimut, 200 tikar, 500 jeriken, dan 200 sarung dan dana tanggap darurat sebesar seratus juta rupiah.

Setelah melihat video rekaman yang viral di media sosial. Tidak hanya PMI saja yang tergerak hatinya. Masyarakat umumnya juga ikut menggalang dana untuk masyarakat di Kota Palu. Bantuan yang diberikan seperti makanan, pakaian, dan kebutuhan medis lainnya. Bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan beban mereka yang sedang tertimpa bencana alam di Palu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *