Oleh : Sovia Eprinita, M. Psi., Psikolog

Pada Desember 2019, kasus Covid-19 pertama kali muncul di Wuhan China (Lu, Stratton, & Tang, 2020; Rinaldi, Yuniasanti, 2020). Kemudian Covid-19 menyebar di seluruh dunia dan menjadi pandemi. Di Indonesia sendiri pada awal bulan Maret 2020 muncul laporan kasus pertama Covid-19 dan sejak saat itu terjadi peningkatan jumlah baik itu pada Pasien Dalam Pengawasan (PDP), Orang Dengan Pemantauan (ODP), maupun PDP yang statusnya positif Covid-19 sehingga pemerintah khususnya melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menetapkan status darurat bencana (Rinaldi, Yuniasanti, 2020).

Ketidakpastian dan kebingungan merupakan tanda dari pandemi (WHO, 2005;  Rinaldi, Yuniasanti, 2020). Kondisi ketidakpastian dapat bertahan hingga akhir pandemi, terutama mengenai kapan pandemi ini akan berakhir. Selain itu pandemi ini juga berdampak pada berbagai macam aspek, baik pada ekonomi maupun sosial yaitu dengan adanya aturan pembatasan sosial serta physical distancing. Hal tersebut menuntut adanya penyesuaian yang dilakukan individu dari berbagai jenjang usia, tidak terkecuali pada remaja. Remaja merupakan peralihan periode perkembangan dari anak menuju dewasa. Pada periode ini terdapat berbagai perubahan yang terjadi pada fisik maupun hormonal yang kemudian berdampak pada kondisi psikologis dari remaja, seperti perubahan hormonal yang dialami oleh remaja membuat adanya peningkatan fluktuasi emosi dari tinggi ke rendah sehingga terkesan moody (Rosenblum & Lewis, 2003; Santrock, 2007). Sebagian besar remaja juga kurang mengetahui bagaimana mengekspresikan emosi sehingga hal ini membuat emosi mereka mudah meledak di depan orang tua atau saudara (Santrock, 2007). Selain itu, di tambah dengan berbagai macam pembatasan kegiatan saat pandemi membuat mereka sering mengeluhkan sulit untuk konsentrasi, sulit merasa tenang, mudah terpancing emosi, merasa sedih, pola tidur yang berubah, melakukan self harm, bahkan hingga terpikirkan untuk melakukan upaya bunuh diri. Hal tersebut merupakan keluhan-keluhan yang muncul pada remaja selama layanan Curhat Corona berlangsung.

Nolen-Hoeksema (2004; Santrock 2007) menjelaskan beberapa faktor yang rentan mempengaruhi kesehatan mental pada remaja, diantaranya adalah pertama faktor yang datangnya dari orang tua seperti pengalaman orang tua yang mengalami depresi, orang tua tidak memberikan dukungan emosional, orang tua memiliki konflik perkawinan yang tinggi, dan orang tua yang memiliki masalah keuangan. Selain itu kekurangan afeksi dan kekurangan dukungan emosional, tingkat kontrol terlalu tinggi dan tekanan berprestasi yang terlalu berlebihan dari orang tua pada masa anak-anak juga memberikan dampak pada kesehatan mental remaja. Kedua adalah faktor sosial yang datangnya dari teman sebaya seperti ketiadaan hubungan erat dengan sahabat, jarangnya berhubungan dengan teman, dan penolakan dari teman sebaya. Ketiga adalah terjadinya “life event” atau kejadian yang berdampak signifikan dan adanya perubahan yang terlalu menantang dan sulit untuk dihadapi, seperti perceraian orang tua, transisi dari lulus SD menuju SMP.

Dalam mendengarkan curhat ataupun keluhan yang disampaikan oleh remaja maka perlu adanya sikap empati dan unconditional positive regard. Empati merupakan kesediaan untuk melihat dunia dengan cara mereka melihatnya meliputi memandang dunia dengan cara pandang remaja dan merefleksikan apa yang sedang mereka rasakan sehingga hal tersebut membuat remaja merasa di pahami. Unconditional positive regard merupakan sikap yang ditunjukan dengan menghargai individualitas dan diri mereka yaitu salah satunya adalah dengan tidak memberikan judgment ketika mereka sedang bercerita (Brammer, MacDonald, 2003). Hal tersebut penting untuk dilakukan mengingat remaja cenderung memandang dirinya sendiri sebagaimana yang diinginkan dan bukan sebagaimana adanya (Santrock, 2013).

Dengan menerapkan hal tersebut selama program Curhat Corona, menunjukan respon yang positif dan menunjukan adanya penurunan rasa tidak nyaman dari keluhan yang dirasakan setelah mengikuti layanan tersebut. Berbagai macam reaksi yang dirasakan oleh remaja setelah menjalani sesi konsultasi online pada program Curhat Corona adalah merasa lebih tenang dan lega, merasa didengarkan, merasa senang karena mendapatkan teman untuk diskusi serta mengurai keluhan yang dirasakan. Program ini bersifat gratis, sehingga masyarakat dari berbagai kalangan maupun jenjang usia mendapatkan kesempatan untuk memperoleh layanan tersebut. Bagi yang tertarik untuk memperoleh layanan telekonseling ini dapat mengakses laman https://covid19.atmago.com/id/consult dan mengikuti langkah-langkah yang tertera pada laman tersebut. Para konselor siap untuk mendengarkan setiap keluhan yang dirasakan oleh masing-masing individu dan berdiskusi bersama untuk dapat membantu memecahkan permasalahan tersebut.

Leave a Comment