atmago
warga bantu warga

Warga Sukabumi Memotret Dampak COVID-19 di AtmaGo

David Khoirul~June 23, 2020 /Corona / Covid-19
Arsitektur, Berlumut, Desa

Saat gelombang pandemi Covid-19, atau Corona, pertama kali terjadi di Wuhan, China, Retno Restu Maulana warga warung doyong kota sukabumi hanya bisa beristighfar dan berharap dalam beberapa hari kedepan, penyakit itu akan reda. Namun, tatkala wabah penyakit itu mulai meluas ke seluruh dunia termasuk Indonesia, maka kepanikan terjadi. Dimana-mana terjadi panic buying terutama di pasar dan supermarket hingga akhirnya pemerintahan  membuat kebijakan khusus untuk menekan tingkat penyebaran 

Ketika Pemerintah mulai memberlakukan pengetatan pergerakan orang, atau Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) kondisi perkampungan di Desa Nyomplong yang berubah total seperti yang diceritakan oleh Nura Siti dimana kampungnya di Nyomplong, Warudong, menjadi sepi, tidak ada riuh anak-anak bermain dan tidak ada ronda malam. Bahkan, di pukul 20.00 pun sudah tak ada orang lalu lalang. 

Berbagai sektor kehidupan ekonomi masyarakat juga mulai terdampak seperti yang disampaikan oleh Fauzi Alamsyah dalam postingannya di Atmago yang menceritakan kondisi pedagang gorengan yang ditemuinya. Pedagang gorengan merasa terpukul dan tertekan dengan situasi pengetatan ini karena pembeli mulai sepi. Supir angkot juga mengeluh karena muatan penumpang dibatasi dan banyak checkpoint yang harus dilalui dengan petugas lalu lintas yang berjaga dimana-mana 

Dampak pandemi juga dirasakan di sektor pendidikan. Perkuliahan dan sekolah pada umumnya berlangsung secara daring atau online. Seperti yang dialami Ainaa Ul Mardhiyah. Ia yang sempat merasakan Ujian Tengah Semester secara langsung, di ruang kuliah, di hari pertamanya, akhirnya harus menjalani UTS melalui daring di hari kedua dan ketiga. 

Namun, sesungguhnya, ada keyakinan: di setiap kejadian pasti ada hikmah-Nya. Karena situasi wabah warga dituntut untuk selalu di rumah (stay at home) dan bekerja dari rumah (work from home), maka ada kecenderungan orang untuk mencari aktivitas di dalam rumah. 

Menurut Retno Restu Maulana, sesama anggota keluarga menjadi makin akrab. Lebih banyak berinteraksi sesama anggota keluarga. Warga Lebih banyak ngobrolin hal hal yang membuat hubungan keluarga lebih erat. Apalagi dengan tetangga kanan kiri rumah. Akan lebih kompak lagi kalau ada tetangga yang mengalami kesusahan. 

Kekompakan untuk saling bantu itu mendorong beberapa pemuda dari organisasi Saung Dongeng dan Rumah Belajar di Citamiang untuk menggalakan gerakan #yukpedulitetangga. Gerakan itu berbentuk penggalangan dana dan pemberian bantuan sosial kepada warga lansia

Selain gotong royong warga di Citamiang itu, ada juga bentuk gotong royong lainnya, di Baros, seperti yang dilaporkan oleh Yasmi Anggota SIBAT Baros Kota Sukabumi. Di daerah itu, para anggota kelompok Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT) PMI Kota Sukabumi menjahit ribuan masker dari rumah mereka masing-masing. Masker produk rumahan karya ibu-ibu rumah tangga itu dibagikan kepada warga yang membutuhkan

Bentuk gotong royong lain terjadi di Nyomplong, Warudong. Di desanya itu, semua warga berkarya di rumah, dan kemudian saling melakukan barter dari karya dan kreatifitas mereka. Ada yang memasak dengan resep menu makanan yang diperoleh dari Google. Ada yang berkebun sayur dan tanaman obat, seperti cabe, tomat, kunyit, dan lainnya. Ada pula yang berkreasi keterampilan kayu dan barang lainnya. Warga desa memenuhi kebutuhannya dengan saling menukarkan barang yang mereka buat atau miliki. 

Sisi lain dari dampak pandemi yang ternyata mampu membangun kehangatan dan kekompakan di antara sesama anggota keluarga dan sesama anggota masyarakat di lingkungan kampung dan desa. Pandemi memaksa setiap orang untuk kembali kepada dirinya sendiri, keluarga terdekatnya, dan lingkungan sekitarnya, seperti yang dipuisikan oleh Raihan Dzulfikar Haris dibawah ini, dengan judul Tuhan Mengajarkan Melalui Corona

Vatikan sepi
Yerusalem sunyi
Tembok ratapan Dipagari
Paskah tak pasti
Ka’bah tutup
Shalat jumat dirumahkan
Umroh batal
Shalat tarawih ramadhan mungkin juga bakal sepi

Corona datang
Seolah-olah membawa pesan bahwa ritual itu rapuh
Bahwa “hura-hura” atas nama tuhan itu semu
Bahwa simbol dan upacara itu banyak yang hanya menjadi topeng 

dan komoditi dagangan saja.

Ketika corona datang
Engkau dipaksa mencari tuhan
Bukan di Basilika Santo Petrus
Bukan di Ka’bah
Bukan di dalam Gereja
Bukan di Masjid
Bukan di Mimbar Khotbah
Bukan di Majelis Taklim
Bukan dalam misa Minggu
Bukan dalam sholat jumat

Melainkan,
Pada kesendirianmu
Pada mulutmu yang terkunci
Pada hakikat yang senyap
Pada keheningan yang bermakna.

Kehadiran pandemi Covid-19 ternyata bak pedang bermata dua; menghadirkan air mata kesedihan dan duka bencana di satu sisi. Namun, disisi lainnya, mendorong kehadiran kehangatan makna sebuah keluarga dan lingkungan sosial bertetangga. Kehangatan gotong royong, sebagai bagian dari akar budaya yang acap terlupa dalam deru mesin modernisasi pembangunan selama ini. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *