Rumah Kreatif Mencorek (RKM) Desa Sendangharjo Lamongan menyelenggarakan Kelas Jurnalisme Warga selama dua hari pada tanggal 21-22 November 2020 atas kerjasama antara BaleBengong : media warga berbagi cerita, SpendeDirekt, Atmago: warga bantu warga dan Yayasan Sakawarga Indonesia (SWI). Hadir sebagai pemateri yaitu Anjar Dwi Pradipta fotografer Radar Lamongan dan Ahmad Yakub, jurnalis Media Indonesia serta Alfan Kasdar, Director SWI Kasdar selaku fasilitator 

Photo: suasana Kelas Jurnalisme Warga Rumah Kreatif Mencorek 21 November 2020

Kelas ini ditujukan untuk menggali potensi para pemuda di Lamongan, khususnya pemuda kampung setempat serta untuk mengajak pemuda agar turut terlibat mengenali isu-isu permasalahan yang ada disekelilingnya termasuk agar peserta memiliki kemampuan  mengidentifikasi potensi wisata maupun kerajinan yang ada di desa.

“Selaku pimpinan Rumah Kreatif Mencorek saya berharap adanya dampak positif bagi peserta yang hadir, diantaranya agar peserta bisa ikut aktif mengabarkan lingkungannya sendiri, baik itu potensi maupun permasalahan yang ada. Misalnya seperti jalan rusak, gorong gorong , atau bahkan korupsi tingkat lokal yang merusak tananan desa. Selain itu agar peserta yang mengikuti acara ini bisa menambah jaringan dan mempererat tali silaturahmi. Dengan begitu dikemudian hari bisa saling bersinergi untuk mengadakan kegiatan bersama lagi” ” Kata Anif Miftahuddin dalam sambutan pembukaan kegiatan 

Anif juga mengatakan bahwa saatnya warga berdaya bersama mengabarkan apa yang ada disekelilingnya agar informasi yang diterima masyarakat luas itu tidak hanya dari media-media arus utama saja. 

Pelatihan ini diawali dengan penjelasan terkait apa itu jurnalisme warga, mengapa warga penting untuk belajar dan memahami jurnalistik serta apa perbedaan jurnalisme warga dengan jurnalisme arus utama. Setelah peserta diberikan bekal tentang penulisan berita berikut pemahaman tentang nilai berita, tahap selanjutnya peserta diberikan materi tentang praktek penulisan berita sesuai dengan kaidah jurnalistik termasuk teknik mengambil gambar sesuai sudut gambar yang tepat 

Kemudian peserta diajak untuk mencoba menganalisa dan mengidentifikasi potensi-potensi yang ada di sekitar dengan melakukan riset lapangan selama satu jam dengan mendatangi calon narasumber secara langsung seperti petani tambak garam, pemilik warung, guru PAUD, ketua pemilihan pilkada tingkat desa serta petani yang membudidayakan pisang cavendish. Dari sana peserta terbuka pikirannya dan menemukan hal-hal yang menarik untuk dijadikan sebuah karya jurnalistik. 

Photo: Peserta melakukan praktek wawancara dengan narasumber 

Karena peserta sudah dibekali dengan materi photography berita sebelumnya, ketika melakukan riset lapangan peserta juga mengambil gambar sesuai sudut gambar yang tepat berdasarkan tema yang akan disajikan sebagai karya jurnalistik. Kemudian peserta kembali ke kelas untuk menuliskan hasil riset lapangannya kedalam platform www.atmago.com dimana semua peserta melihat dan untuk saling memberi tanggapan dan penilaian apa yang kurang dan apa yang perlu ditambahkan dalam setiap tulisan yang dibuat peserta 

Karya Jurnalistik yang dihasilkan peserta cukup beragam mulai dari potensi ekonomi warga seperti informasi mengenai budidaya pisang cavendish, peluang bisnis tambak garam serta kendala-kendala petani padi dan sebagainya, termasuk potensi  bisnis UMKM Desa. 

Berikut karya jurnalistik yang dibagikan oleh peserta di platform warga bantu warga www.atmago.com 

Link Photo 1 Situasi dan kondisi bukan hambatan petani

Link photo 2 Potensi Wisata Desa

Setelah pelatihan berakhir alumni pelatihan masih aktif menulis dan berbagi informasi di atmago, terlebih informasi mengenai potensi wisata mendapat sambutan positif oleh warga setempat karena menjadi alat promosi desa yang murah dan efektif. (Alfan Kasdar) 

Leave a Comment