atmago
warga bantu warga

Menguatkan Jurnalisme Warga di Era Pandemi

David Khoirul~August 30, 2020 /Corona / Covid-19
Focus Photo of 4 Wooden Pawn Figurine

JAKARTA, 18 Agustus 2020 – Pandemi Covid-19 datang tiba-tiba. Kita semua tidak tahu apa dan bagaimana. Bencana ini datang tanpa kita mampu melakukan mitigasi sebelumnya. Bagaimana masyarakat merespon, sangat bergantung pada sumber daya apa yang dimiliki, saat bencana non alam itu datang. Kesadaran itu yang mengemuka dalam diskusi Semidaring ke 23, yang diorganisir oleh SEJAJAR, Selasa, 18 Agustus 2020 lalu.

Salah satu respon masyarakat adalah melalui media komunikasi yang dimiliki. Dalam diskusi, yang bekerjasama dengan Atma Connect tersebut, dibahas dua media komunikasi berbasis jurnalisme warga, yaitu Radio Komunitas dan platform digital berbasis masyarakat, AtmaGo.  Jurnalisme warga sendiri telah berkontribusi cukup penting di sejumlah situasi krisis di Indonesia. Tak hanya menyebarkan informasi pertama dari daerah bencana, jurnalisme warga juga berperan dalam pengurangan risiko, evakuasi, penggalangan solidaritas, dan menggerakkan inisiatif lokal.

Untuk membahasnya, diskusi itu menghadirkan tiga orang narasumber, dan seorang penanggap. Tiga orang narasumber itu adalah Sinam Sutarno, Ketua JRKI (Jaringan Radio Komunitas Indonesia); Alfan Kasdar, Field Director Atma Connect; Farid Gaban, pendiri Yayasan Zamrud Khatulistiwa. Sedangkan penanggapnya adalah Gilang Desti Parahita, Dosen FISIPOL UGM yang dimoderatori oleh Ika Ningtyas dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) 

Dalam pemaparannya, Sinam Sutarno mengingatkan bahwa jurnalisme warga adalah hal yang penting dan juga populer di masa pandemi saat ini. Seiring juga dengan perkembangan teknologi informasi terkini. Selain melalui aplikasi medsos, warga juga memakai Radio Komunitas,

“Radio komunitas ini media komunikasi warga berbasis audio, yang didirikan dari inisiatif komunitas, dikelola oleh komunitas, dan dimanfaatkan untuk kepentingan komunitas,” kata Sinam. Menurutnya, radio komunitas itu bukan soal radio yang melayani komunitas, Tapi bagaimana warga komunitas melayani dirinya  sendiri dengan menggunakan radio.

“Dan disaat pandemi ini, radio komunitas memainkan peran sebagai radio darurat siaga Covid-19,” ujar Sinam. Hal yang sama dilakukan pula oleh AtmaGo, namun dengan cara yang lebih variatif.

Dengan dukungan MADANI Fhi360 USAID, Atma Connect, sebagai pengembang AtmaGo, menyediakan layanan microsite www.covid19.atmago.com, yang didedikasikan khusus untuk penanganan Covid19. Microsite AtmaGo itu menyajikan: update terkini COVID19; radio streaming setiap hari, pukul 18.00-18.40 WIB, dengan menghadirkan pelaku UMKM; curhat Corona dengan psikolog/konselor terpercaya; materi audio visual edukasi Covid19 (podcast); dan suara warga.

Selama pandemi COVID-19 (Feb-Agustus 2020), pengguna AtmaGo dari berbagai kampung /kota telah berbagi cerita dalam menghadapi krisis ini, meliputi lebih dari 2.600 postingan, dengan 309.000 pageviews, dan 600 komentar.

Bagi Farid Gaban, peranan media komunitas yang mengusung jurnalisme warga itu sangat penting dan krusial. Media-media komunitas seperti AtmaGo yang mempunyai jangkauan hyperlocal dapat menjadi alternatif sumber informasi bagi warga. Sesuatu yang seringkali diabaikan oleh media-media mainstream, yang acapkali terlalu Jakarta-sentris, atau Jawa-sentris, dalam pemberitaannya.

“Jurnalisme itu sebuah metode untuk menggali dan menyampaikan kebenaran. Seorang wartawan tidak mesti bekerja di perusahaan media. Yang penting dan utama bahwa jurnalis terikat secara etika untuk menyampaikan hati nurani warga dan kebenaran serta “Give voice to the voiceless” terutama jurnalis warga, baik melalui radio komunitas maupun medsos AtmaGo ” kata Farid Gaban.

Sementara itu penanggap diskusi  Gilang Desti Parahita, Dosen FISIPOL UGM mengatakan “ Atmago sudah sangat luar biasa dimana informasi/berita yang sampaikan sepenuhnya dihasilkan  oleh warga dan tetap melalui mekanisme pengawalan informasi melalui moderasi agar tetap sesuai dengan etika profesional yang diterima semua kalangan, ini  mengingatkan kita pada experiment yang dilakukan oleh Rappler.com di philipina dan mynews.com di korea selatan meskipun tidak berjalan dengan mulus.

Meskipun jurnalisme sudah berkembang dan manfaatnya semakin dirasakan masyarakat terutama di saat Pandemi ini, Gilang menyampaikan bahwasanya banyak tantangan yang dihadapi oleh jurnalisme warga terutama tantangan etika dan keberlangsungan. Banyak platform yang awalnya ditujukan untuk memberi ruang kepada warga biasa untuk berbagi informasi secara mandiri namun tidak sustainable,  Huffington post misalnya , awalnya seperti AtmaGo yang berkembang secara organik namun sekarang seperti pers biasa karena untuk mengembangkan platform jurnalisme warga berbiaya tidak murah, disamping mengandalkan kerelawanan warga dalam membuat informasi/berita

Tantangan lain misalnya masih banyak jurnalis warga yang masih dibayang-bayangi jerat kriminalisasi UU Informasi dan Transaksi Elektronik. Selain itu, besarnya kesenjangan digital di Indonesia membuat praktik jurnalisme warga mungkin masih terpusat di daerah-daerah yang infrastruktur internetnya sudah mapan. Demikian pula dengan kesempatan untuk peningkatan kapasitas, belum dinikmati oleh semua jurnalis warga

Semi Daring ini menjadi awal dari rencana training jurnalisme warga bagi OMS-LSM anggota SEJAJAR yang akan diselenggarakan pada tanggal 01 sd 03 September 2020 mendatang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *