Kemiskinan merupakan isu terbesar yang perlu dituntaskan oleh Indonesia. Pada tahun 2010, tingkat kemiskinan di Indonesia mencapai 13,33 persen dari total penduduk Indonesia, atau sekira 31,02 juta Jiwa penduduk hidup di bawah garis kemiskinan, menurut TNP2K (Tim Nasional Percepatan dan Penanggulangan

Permasalahan ekonomi yang terjadi di Indonesia menjadi hal yang wajib diperhatikan oleh pemerintah, ekonom, maupun masyarakat. Penyebab kemiskinan bisa terdiri dari beberapa hal salah satunya adalah akibat adanya budaya miskin yang seolah dipelihara. Seperti kurang usaha dalam mendapat penghasilan tambahan. Hal lainnya adalah kebijakan-kebijakan ekonomi yang belum mampu menyentuh semua lapisan masyarakat. Akibatnya banyak penduduk miskin tidak mampu mengakses modal untuk membuat usaha sampingan.

Adapun permasalahan kemiskinan itu terbagi dua. Pertama adalah kemiskinan di kawasan perkotaan dan kemiskinan di kawasan pedesaan. Keduanya terjadi salah satunya adalah akibat dari kebijakan ekonomi yang kurang tepat.

Kemiskinan di kawasan perkotaan maksudnya kemiskinan yang terjadi di kota-kota besar di Indonesia. Pada umumnya mereka yang terjebak dalam kondisi miskin di kawasan perkotaan adalah akibat sulitnya bersaing dengan penduduk di lain kota.

Misal sebuah kelompok masyarakat A memiliki tingkat pendidikan terakhir rata-rata adalah lulusan SMP dan SMA sedangkan kelompok masyarakat B memiliki tingkat pendidikan terakhir rata-rata SMA dan S-1. Dalam pasar tenaga kerja, akibatnya kelompok masyarakat B cenderung lebih diunggulkan dalam hal nilai jual dibandingkan kelompok masyarakat A. Akibatnya kelompok masyarakat A kalah saing dalam hal mencari pekerjaan dan penghasilan mereka tidak lebih baik dari kelompok masyarakat B. Kondisi ini menjadi perangkap kemiskinan yang sulit untuk dipecahkan. Peristiwa ini terjadi dilingkungan baik penduduk kota asli yang tidak bisa bersaing dengan pendatang atau sebaliknya.

Kemiskinan di kawasan pedesaan adalah kemiskinan yang terdapat di desa-desa Indonesia. Pada umumnya penduduk miskin di desa terjebak kemiskinan akibat hal-hal umum seperti tidak adanya modal baik fisik maupun nonfisik, atau tidak adanya alternatif produksi.

Misal, petani-petani di desa pada umumnya adalah petani penggarap. Terutama petani di kawasan pantai utara Jawa. Oleh karena hanya berstatus penggarap, mereka mendapatkan penghasilan dari bagi hasil dengan pemilik lahan yang umumnya penghasilan mereka tidak cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mereka, tidak punya lahan sendiri, sehingga tidak ada jaminan yang bisa digunakan untuk modal pinjaman ke Bank. Artinya kebijakan kredit UKM tidak berlaku bagi mereka. Ditambah lagi penduduk desa umumnya kurang memiliki keahlian khusus selain bertani.

Kondisi ini menyulitkan penduduk desa untuk membangun keahlian lain dalam rangka mencari modal usaha. Faktor lainnya dari kehidupan pedesaan adalah banyak penduduk usia produktif yang mencari pekerjaan dengan merantau. Sehingga komposisi penduduk di pedesaan cenderung didominasi oleh masyarakat dengan usia tua dan tidak produktif

Tim nasional percepatan dan pengentasan kemiskinan Indonesia sudah mengupayakan berbagai macam strategi pengentasan kemiskinan demi menekan angka kemiskinan. Sejak 1998 hingga saat ini telah dilaksanakan program kemiskinan. Secara umum, program-program tersebut berhasil menurunkan angka kemiskinan Indonesia yang berjumlah 47,97 Juta pada 1999 menjadi 30,02 Juta pada 2011. Hingga pada tahun 2018 angka kemiskinan di Indonesia berhasil tercatat pada level satu digit yakni 9,82%.

Adapun empat strategi dasar yang ditetapkan sebagai dasar pembuatan program pengentasan kemiskinan sebagai berikut :

1. Menyempurnakan program perlindungan sosial

2. Peningkatan akses masyarakat miskin terhadap pelayanan dasar

3. Pemberdayaan masyarakat

4. Pembangunan yang inklusif. Kemiskinan yang terjadi di Indonesia dikelompokan dalam dua jenis utama dengan karakteristik berbeda dan sebab yang berbeda pula. Di Perkotaan, kemiskinan memiliki karakter yang berkaitan dengan persaingan kerja akibat kondisi lingkungan sekitar. Sehingga kemiskinan seperti menjadi budaya yang dipelihara. Sedangkan di pedesaan, kemiskinan terpusat pada ketidaktersediaan modal dan kondisi yang didukung kebijakan-kebijakan sosial-ekonomi saat ini. Mungkin perlu rasanya sebuah usaha lebih untuk mengatasi kemiskinan semacam ini dengan kebijakan yang lebih pro-poor.

Leave a Comment