Top view of crop anonymous person hand with red paper heart on table with stethoscope and medical mask for coronavirus prevention

AtmaGo berangkat dari keyakinan sederhana: tak ada yang lebih mampu memberdayakan masyarakat selain masyarakat itu sendiri. Mereka lah yang paling mengerti akar permasalahan yang dihadapi, siapa saja yang butuh bantuan, dan pertolongan seperti apa yang akan memberikan dampak positif di jangka panjang.

Gagasan inilah yang kemudian menginspirasi slogan “Warga Bantu Warga.”

Pandemi COVID-19 semakin mengukuhkan keyakinan kami. Masyarakat tak hanya berjibaku menghadapi ancaman penyakit baru yang mematikan. Mereka juga perlu memilah antara informasi yang hoaks dan benar, mengedukasi satu sama lain tentang pandemi, serta berbagi siasat untuk bertahan di tengah kondisi ekonomi yang kian terpuruk.

Microsite kami, covid19.atmago.com, diciptakan sebagai platform untuk mewadahi serta mendorong interaksi tersebut. Sejak tahun lalu, covid19.atmago.com menyediakan kabar terkini yang akurat tentang pandemi, informasi terpercaya untuk membantu proses edukasi masyarakat, serta layanan Curhat Corona yang menyediakan konseling mandiri dengan tenaga ahli bagi siapa saja yang membutuhkan.

Setiap informasi ini perlu. Tapi, seiring berjalannya waktu, kami menyadari bahwa tak ada yang lebih kuat dari kesaksian orang yang sungguh-sungguh menghadapi COVID-19.

Terlebih lagi, kata-kata mereka bermakna lebih bagi kita. Sebab mereka adalah tetangga kita, yang kita temui di warung dan pos ronda saban hari. Atau saudara kita, yang kita kunjungi rumahnya Lebaran lalu. Atau bahkan teman kita, yang beberapa pekan lalu masih terlihat segar bugar, tapi kini terbaring lemah di ranjang Wisma Atlet. Kedekatan itu membuka mata kita, sekaligus memaksa kita bertafakur.

Karena itulah kami memprakarsai Cerita Penyintas, kumpulan pengalaman dari orang-orang yang pernah positif COVID-19, dan berhasil bertahan hidup.

Mereka adalah orang-orang biasa yang merasakan dampak pandemi COVID-19. Mereka dipotong gajinya selama pandemi dan harus kucing-kucingan dengan kantor agar tidak dipecat. Mereka punya keluarga yang harus dipertimbangkan nasibnya, dan harus bergantung pada fasilitas kesehatan pemerintah yang kadang kurang memadai. Pengalaman mereka adalah pengalaman nyata yang dilalui jutaan orang di Indonesia selama pandemi ini.

Ambil contoh pengalaman Amek, yang terkena COVID setelah mengikuti acara kantor di luar kota. Ia terdampar jauh dari kampung halamannya, tanpa mengenal siapa-siapa, dan harus bergantung pada satu-dua kenalan untuk menangani penyakitnya. Ia bahkan sempat “tertipu” hasil tes negatif yang ternyata tidak akurat. Andaikan saat itu ia nekat pulang kampung dan tidak mengikuti kata hatinya, boleh jadi ia menyebar penyakit pada keluarga dan teman-teman terdekatnya.

Cerita Amek hanya salah satu dari sekian banyak kesaksian yang berhasil kami kumpulkan. Kami juga berbicara dengan seorang jurnalis yang curiga setelah sayur asem masakan istrinya jadi terasa hambar, seorang guru yang mencoba mengambil hikmah dari pengalamannya melawan COVID, hingga curhat seorang transpuan yang ngeri saat akan ke fasilitas karantina. Semuanya ngeri-ngeri sedap!

Berkat kesaksian mereka, kita jadi tahu tentang kerja keras para pekerja medis, serta bagaimana mereka berupaya membantu pasien di lapangan. Kita tahu suasana sesungguhnya di fasilitas kesehatan dan karantina. Bahkan, kita jadi tahu apa saja halangan tak terduga dalam proses penyembuhan, serta solusi-solusi yang diambil untuk menghadapinya.

Semua pengetahuan ini bukan bermaksud untuk menakut-nakuti. Justru, cerita mereka bisa memberi kejernihan di tengah situasi yang penuh rasa panik dan prasangka. Dengan mengisahkan pengalaman mereka, para penyintas COVID-19 dapat memberdayakan sesama warga dalam menghadapi pandemi ini. Saat kita mengetahui betul persoalan yang kita hadapi, kita dapat mempersiapkan diri, serta merancang jejaring bantuan untuk menopang satu sama lain dengan lebih baik lagi.

Kami harap, cerita yang dibagikan tak hanya menginspirasi, tetapi juga bermanfaat bagi kita semua.

Leave a Comment