atmago
warga bantu warga

Bagaimana Dampak Jurnalisme Warga bagi Warga dalam Hadapi Covid-19? Yuk Simak Penuturan Mereka!

David Khoirul~August 25, 2020 /Corona / Covid-19
People Forming Round by Shoes

Jurnalisme warga telah berkontribusi cukup penting di sejumlah situasi krisis di Indonesia. Tak hanya menyebarkan informasi pertama dari daerah bencana, jurnalisme warga juga berperan dalam pengurangan risiko, evakuasi, penggalangan solidaritas, dan menggerakkan inisiatif lokal. Geliat aktivitas jurnalisme warga itu tentunya makin ditunjang dengan perkembangan teknologi informasi seperti hadirnya internet dan ponsel yang memungkinkan setiap warga dapat membuat dan mendistribusikan beritanya sendiri dari lingkungan sekitar, secara lebih cepat dan luas.

Demikian halnya di masa pandemi Covid-19 yang berdampak pada berbagai sektor mulai kesehatan, sosial, ekonomi, hingga psikologis. Banyak warga mendokumentasikan bagaimana pandemi telah berdampak pada kehidupan keluarga, komunitas dan lingkungannya. Namun di tengah kesulitan itu, kita melihat berbagai aksi kemanusian yang diinisiasi oleh individu dan komunitas untuk saling berbagi dan meringankan berbagai dampak itu pada sesama.

Seluruh cerita warga –baik kisah yang menginspirasi maupun kritik sosial selama pandemi, bisa kita simak dalam berbagai platform dan situs jurnalisme warga. Platform Atmago.com misalnya, telah merekam ribuan cerita warga dari berbagai kampung dalam menghadapi Covid-19.

Berikut adalah kisah pengguna atmago di kabupaten Gresik, Kabupaten Pekalongan dan Kabupaten Bogor. Mereka terbantu dengan adanya aplikasi atmago  yang mampu  membangun paguyuban sesama warga,  mendapatkan update berita terpercaya tentang COVID19 dan menyuarakan aspirasi warga di lingkungannya masing-masing

Nensi Indri, Pengguna AtmaGo Kabupaten Gresik Jawa Timur

AtmaGo Jadi Bagian dari Paguyuban Warga Lokal di saat Pandemi

Dahulu, saat masa Normal, hubungan diantara warga, terutama ibu-ibu kampung, di perkotaan Gresik terbilang renggang. Tak ada aktivitas positif dan kolektif yang berfaedah. Alih-alih melakukan kegiatan positif saat berkumpul bersama, ibu-ibu kampung biasanya malah memakai kumpul-kumpul itu untuk bergunjing, bergosip ria, dan membangun spekulasi-spekulasi di tingkat kampung. Nah, di masa New Normal, kumpul-kumpul ibu-ibu kampung itu diarahkan jadi lebih positif. Inilah yang dilakukan oleh Nensi Indriyati.

Aktivitasnya sebagai aktivis sosial, yang peduli dengan kondisi perempuan dan anak di Gresik, membuatnya tergerak untuk melakukan sesuatu. Didukung oleh teman-temannya, dari berbagai komunitas, seperti Fatayat NU dan KORPRI PMII, Nensi –begitu panggilannya sehari-hari, mengorganisir ibu-ibu kampung untuk pemulihan lingkungan dan berkebun. Mulai dari memilah sampah organik untuk menjadi kompos, hingga menanam tanaman sayur, seperti labu, terong, cabe, wortel, dan lain-lain.

Cerita itu adalah hanya salah satu dari banyak kegiatan yang dilakukan Nensi. Dengan kegiatan seambreg itu, Nensi merasa AtmaGo membantunya untuk lebih guyub dengan warga. “Dengan AtmaGo di tangan, berbagi informasi dan pengetahuan menjadi lebih mudah,” kata Nensi.

Saat pertama ketemu AtmaGo, dua bulan lalu, Nensi hanyalah salah satu dari banyak mahasiswa yang hadir dalam diskusi yang digelar AtmaGo. Sebagai peserta. Tapi, setelah bersentuhan lebih jauh, Ia tertarik, dan mulai menjadi pengguna aktif. Apalagi setelah diyakinkan oleh Mbak Khosi’ah, salah seorang tokoh perempuan Gresik.

Hingga sekarang, Nensi merasakan kemanfaatan AtmaGo itu, selain sebagai media informasi, juga dapat menjadi media membangun paguyuban sesama warga. Keguyuban komunitas itu terasa mengental, tatkala beberapa teman dan adik angkatannya, di KORPRI PMII, PATTIRO Gresik, dan Komunitas Anak Peduli Pendidikan, ikut serta menjadi pengguna AtmaGo.

Menurut Nensi, konten AtmaGo yang paling diminati di Gresik itu info acara webinar dan aduan warga. Apalagi selama masa wabah ini, kegiatan berbagi ilmu lewat webinar itu sangat dicari-cari mahasiswa. Teman-temannya di kampus STAI selalu mengikuti aktivitas semacam itu.

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Nensi pun selalu ia upload ke medsos AtmaGo, sehingga teman-temannya yang ketinggalan info cepat dapat mengetahuinya.

Qotrunnada, Pengguna AtmaGo Kabupaten Bogor,Jawa Barat

Pengen Tahu Kabar Covid? Cek Aja AtmaGo

“Hai. Namaku Qotrunnada. Panggilanku, Nada. Kenal AtmaGo, gara-gara pengen tahu kabar soal Covid.”

Mahasiswa semester akhir, Universitas Ibnu Khaldun ini begitu antusias dan aktif saat menceritakan pengalamannya berkenalan dan bergaul dengan AtmaGo. Aplikasi medsos ini lebih spesifik daripada medsos lainnya, dan menurut Nada, informasinya lebih lokal, kontekstual, sesuai kebutuhan warga, dan mahasiswa seperti dirinya.

Setelah jadi pengguna AtmaGo, Nada tak hanya mencari info pandemi dan mengikuti webinar-webinar yang mengangkat tema yang menjadi minatnya. Nada juga mulai mengabarkan peristiwa yang ada di sekitar lingkungannya, dan berbagi info lowongan kerja.

Bahkan ia telah berhasil menggaet sekitar 25 orang teman untuk turut menjadi pembaca AtmaGo. Dan mendorong mereka lebih jauh, untuk menjadi kontributor AtmaGo.

Kabar perkembangan Covid setiap hari, ia peroleh dari medsos AtmaGo ini. Sehingga, acapkali, jika ada teman dan saudaranya yang bertanya soal Covid, maka ia selalu mendorong mereka untuk mengecek ke AtmaGo.

“Pengen tahu kabar Covid? Cek aja deh di AtmaGo”

Ahmad Osan Farhani, Pengguna AtmaGo Kabupaten Pekalongan Jawa Tengah

AtmaGo Bantu Warga Untuk Lebih Komunikatif

Selama pandemi ini, kehidupan warga tambah susah, apalagi Pekalongan sempat lockdown. Namun, meski sudah dibuka lagi, wabah Covid-19 belum juga usai. Keluhan-keluhan macam ini acap kali didengar oleh Osan, nama panggilan dari Ahmad Osan Farhani. Keprihatinannya muncul, dan ia ingin berbuat sesuatu, setidaknya, yang sesuai dengan kemampuannya: berbagi informasi.

Kebetulan, sebulan yang lalu, sekitar pertengahan Juni, Osan berkenalan dengan AtmaGo. Dan langsung terpikat. Meski bukan pertama kalinya ia bersentuhan dengan dunia informasi dan komunikasi, namun AtmaGo memberi kesan dan rasa yang berbeda.

Osan, yang sehari-hari bekerja di staf Bagian Protokol Setda Kabupaten Pekalongan, memanfaatkan jaringan pergaulannya yang luas untuk selalu mempromosikan AtmaGo kepada masyarakat luas.

‘Sudah 60 komunitas, pak. Yang saya ajakin,” ujarnya. Berbagai macam jenis komunitas. Ada komunitas radio-komunitas, asosiasi BUMDES, kumpulan karangtaruna, dan lain-lain. Memang belum banyak yang tertarik untuk memakai AtmaGo, namun Osan yakin, sepanjang AtmaGo bermanfaat maka makin lama pengguna medsos ini di Pekalongan akan bertambah banyak.

Dan saat ini sudah ada yang mulai merasakannya, seperti yang diceritakan temannya. Dulu, tiap pasang iklan usaha atau iklan lowongan kerja, mesti bayar. Dan biayanya cukup mahal. Tapi, dengan adanya AtmaGo, memudahkan bagi pedagang kecil untuk beriklan atau memasarkan usahanya. Meski dalam format berita. Seperti yang diceritakan Osan dalam postingannya 15 Juli lalu tentang kiprah para pedagang konveksi di Desa Sokosari.

“Wah, pada senang Pak, saat tahu usaha mereka di publish lewat AtmaGo. Pada nyebarin info ini ke teman-teman dan kenalannya. Mungkin itu sebabnya postinganku dibaca banyak orang. Sampai 100 kali lho, Pak,” kata Osan dengan senang. Postingan AtmaGo bisa jadi bahan obrolan mereka.

Hal yang serupa juga terjadi postingan Osan tentang kondisi Pasar Rindu Semilir. Boleh dibilang, kekuatan orang desa itu pada gethok tularnya. “Dan ini makin okey, dengan dukungan AtmaGO,” tambah Osan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *